Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa – Seri Karya Rupa ‘Tribute to Wiji Thukul’

Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya sata kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah
simbol perlawanan (Munir)
…….
Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat di Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan
kaum elitnya (Arif Budiman)

 

 
Bagi kami, puisi-puisi Wiji Thukul mencerminkan nasib jutaan rakyat di Indonesia yang tidak saja dibodohi, ditindas dan pada akhirnya dimiskinkan seperti dinyatakan oleh Arif Budiman. Namun puisi-puisi itu sesungguhnya adalah cermin pergulatan dan perjuangan Wiji Thukul sendiri. Dalam satu wawancara ketika ia ditanyakan komentarnya atas
julukan dirinya sebagai seniman kerakyatan, ia mengatakan : “
Dan memang perlu diluruskan bahwa saya tidak membela rakyat. Saya sebenarnya membela diri saya sendiri. Saya tidak ingin disebut pahlawan karena berjasa memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sungguh saya hanya bicara soal diri saya sendiri. Lihatlah saya tukang pelitur, istri buruh jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan saya semuanya melarat. Mereka semua masuk dalam puisi saya. Jadi saya tidak membela siapa pun. Cuma secara kebetulan, dengan membela dirisendiri ternyata juga menyuarakan hak-hak orang lain yang sementara ini entah di mana”. 
(Jurnal Reviltalisasi Sastra Pedalaman,
edisi ke-2 Nopember, 1994.).
….
Oleh karena itu puisi-puisi Wiji Thukul tetap relevan hingga hari ini, tidak saja untuk merefleksikan perjalanan 19 tahun ‘Reformasi’ namun juga 19 tahun ‘penghilangan paksa’ Wiji Thukul karena perjuangan baik melalui medium seni dan organisasi yang dianggap berbahaya bagi keberlanjutan
rezim otoritarian. Seperti dikatakan Munir “
Hanya sata kata, lawan! (saya penggal puisi Wiji Thukul yang paling kuat) telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan”. Terkait dengan Reformasi gugatannya adalah sejauh mana telah membawa perubahan pada nasib rakyat kecil yang dimiskinkan di masa rezim otoritarian serta pengungkapan kejahatan HAM berat masa lalu dalam hal ini kasus penghilangan paksa aktifis.
….
Untuk menjadikan karya puisi Wiji Thukul sebagai bahan refleksi dan pembelajaran bagi perjalanan  ke depan maka Pameran Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul ini diadakan. Karena karya-karya puisi Wiji Thukul adalah karya otentik yang mewakili penderitaan
sekaligus aspirasi rakyat yang dimiskinkan selama ini.
bahan bacaan :

Seniman Harus Memperjuangkan Gagasannya – Wiji Thukul

PIKIRAN PUNYA HUKUM SENDIRI – Wiji Thukul

 

Wiji Thukul – Munir, SH.

Wiji Thukul – Yap Thiam Hien Award 2002

Wiji Thukul Penyair Kampung -Arief Budiman

Wiji Thukul Wijaya – R. Von derBorch

 

Wiji Thukul dan Orang Hilang -Linda Christanty 

Seorang Kawan, Wiji Thukul – Linda Christanty

Wiji Thukul: Hanya Ada Satu Kata,Hilang! – Wilson

WijiThukul dan Kata-kata yg Tak Pernah Binasa – Lilik Hs

Wiji Thukul Masih Utuh, dan Kata-kata Belum Binasa – Mugiyanto

Wiji Thukul, Dihilangkan tetapi Tetap Hidup – I Gusti Agung Anom Astika

Menunggu Thukul Pulang – GitaWidya Laksmini

Merahnya Merah Wiji Thukul –Andre Barahamin

Catatan Kecil di Peringatan 20Tahun Thukul Menulis “Catatan” – Herry Sutresna – ‘Ucok Homicide’

Wiji Thukul dan Puisinya – DianPurba

Wiji Thukul, 19 Tahun Hilang –Lilik Hs 

Infografis: Wiji Thukul sangPeluru

 

liputan khusus cnn Indonesia

Selamat Ulang Tahun WijiThukul

Wiji Thukul: Biji Itu Telah Tumbuh Membesar

Secuil Kisah Hidup Wiji Thukul

Jika Saja Wiji Thukul Masih Ada

17 Tahun Berjuang, Saudara Wiji Thukul Tak Pernah Lelah

Kala Wiji Thukul Menjelma pada Segala Rupa

Mengilustrasikan Jejak Hidup Wiji Thukul

Mandek Perkara Hilangnya Wiji Thukul

Secuil Ingatan Istri Wiji Thukul: “Semua ini Sudah Ngawur”

Linda Christanty: Wiji Thukul Teman yang Lucu

Tak Ada Jalan Tunggal Penyelesaian Kasus HAM

Wiji Thukul Era Media Sosial versi Andina Dwifatma 

Peringatan – Revolutionay Poet Wiji Thukul (video)

Indonesia in Revolt : Democracy or Death (video)

Dokumentasi ini didasarkan wawancara dengan aktivis yang diculik, disiksa, dipenjarakan dan selamat. Dan kita tahu bahwa hingga kini masih ada 13 aktivis korban penghilangan paksa yang belum diketahui nasibnya diantaranya adalah penyair aktifis Wiji Thukul

 

Widji Thukul Aktivis Yang HilangDi Culik (video)

Kuldesak Wji Thukul (video)


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


#Semarang
 
#Yogyakarta
 
 
 

dok pameran gerilya tribute to wiji thukul 







poster puisi wiji thukul



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 






 
 
Andreas Iswinarto : Master of a Dark Art (Mark Wilson – the Jakarta Post)
http://www.thejakartapost.com/news/2014/12/10/master-a-dark-art.html
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s